KULTWIT
You are here: Home » Kultwit » BUKU PUTIH

BUKU PUTIH

Teman-teman mohon doa hari ini mau meluncurkan buku yang sudah cukup lama saya rencanakan.
Ini adalah Buku Putih Fahri Hamzah yang merekam sebuah perdebatan yang serius tentang bagaimana debat tentang “Daulat Parpol vs Daulat Rakyat”.
Semoga bermanfaat bagi pembangunan demokrasi ke depan.

Buku Putih Fahri Hamzah ini tentu merupakan karya yang dipicu oleh peristiwa yang terjadi 5 tahun lalu ketika saya diberhentikan PKS dari seluruh jenjang keanggotaan (pemula-muda-dewasa-ahli), tanpa sebab dan alasan sehingga pemecatan tersebut kalah (dibatalkan) oleh pengadilan negara.

Pengadilan negara mengidentifikasi adanya Perbuatan Melawan Hukum (PMH) berupa peradilan sesat dan PMH lainnya sehingga secara berjenjang dari Pengadilan Negeri, Pengadilan Tinggi, dan Mahkamah Agung secara konsisten perbuatan pimpinan PKS telah dibatalkan.

Meski PKS menolak, Sekarang sedang menunggu hasil dari kewajiban yang harus dibayarkan PKS kepada saya Rp. 30 miliar setelah peristiwa kasasi (inkracht).
Dana itu akan saya peruntukkan bagi masyarakat, khususnya rakyat yang tidak beruntung, fakir miskin dan anak-anak terlantar.

Sejak awal PKS menganggap remeh keputusan pengadilan, tapi saya akan berdiri mendukung peradilan.
Tetapi jauh lebih penting adalah menjelaskan baik secara teoritis maupun dalam prakteknya apa yang menjadi dasar dan apa yang menjadi kejadian sebenarnya dalam peristiwa tersebut.

Penting bagi kita untuk memperbincangkan masa depan penyelenggaraan negara dengan memberi perhatian kepada masa depan pengelolaan partai politik. Demokrasi tidak bisa menghindari eksistensi lembaga yang merupakan jembatan menuju negara ini.

Itulah sebabnya dalam buku ini direkam beberapa jejak teoritis perdebatan antara daulat partai politik yang belakangan ini nampak makin menguat sejalan dengan menurunnya citarasa demokrasi kita berhadapan dengan daulat rakyat yang telah secara sangat kuat terpatri dalam UUD1945.

Kedaulatan rakyat seperti yang kita dengar dan kita lihat di dalam Pembukaan UUD, bahkan setelah tujuan negara dan sebelum Pancasila disebutkan, disebutlah prinsip “….yang berkedaulatan rakyat dengan berdasarkan kepada; Ketuhanan Yang Maha Esa…” dan seterusnya.

Karena itu konsepsi “kedaulatan rakyat” dalam tradisi konstitusi Indonesia harus mewarnai seluruh tradisi bernegara kita.
Kedaulatan takyat adalah merupakan suatu konsepsi yang serius dan sangat kuat.
Inilah pertanda demokrasi kita yang sungguh-sungguh.

Buku Putih Fahri Hamzah saya tulis untuk pengembangan partai politik kita kedepan yang sama sekali tidak boleh mengarah kepada berkuasanya sekelompok orang atau matinya prosedur sehingga hak-hak keanggotaan, (yang di dalamnya ada hak asasi manusia), dirampas dengan sangat mudah.

Sekali lagi Partai politik kita adalah rahim bagi demokrasi Indonesia yang apabila gagal menerapkan prinsip-prinsip kedaulatan rakyat di dalamnya maka partai politik akan dengan sangat mudah terjebak pada pembolehan atau bahkan permisif terhadap oligarki dan politik dinasti.

Maka, dengan kerendahan hati saya persembahkan Buku Putih Fahri Hamzah ini dan selamat mengikuti bedah buku bagi yang sempat ikut dan selamat membaca Buku Putih Fahri Hamzah.

Twitter @Fahrihamzah 21/2/2020

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Scroll To Top