Rabu, 07 Januari 2009
Iklan PKS, Iklan Oportunis PDF Print E-mail
INILAH.COM - R Ferdian Andi R (10 Nopember 2008)
Jakarta – Setelah menuai kontroversi dengan NU dan Muhammadiyah, Partai Keadilan Sejahtera (PKS) memasang iklan politik baru. Figur HM Soeharto jadi salah satu ikon pahlawan dan guru bangsanya. PKS pun dituding oportunis. Betulkah? PKS tampaknya cukup menikmati iklan politiknya yang mengundang kontroversial. Belum lama reda, iklan politik peringatan hari Sumpah Pemuda 28 Oktober lalu dengan menampilkan tiga tokoh penting Soekarno, KH Hasyim Asyari, dan KH Ahmad Dahlan. Iklan itu menuai gugatan dari NU dan Muhammadiyah.

Kini, pada momentum peringatan hari Pahlawan 10 November, PKS kembali menghadirkan politik yang menimbulkan kontroversi. Mereka memajang sejumlah figur yang disebut sebagai pahlawan dan guru bangsa.

Dalam materi iklan terbarunya, PKS memunculkan foto tokoh penting. Mulai dari Bung Karno, Pak Harto, Ahmad Dahlan, Hasyim Asyari, M Natsir, Muhammad Hatta, Jenderal Sudirman, dan Bung Tomo. Di akhir tayangan iklan, muncul suara: “Terima kasih guru bangsa, terima kasih pahlawan, kami akan melanjutkan langkah bersama PKS”.

Apakah PKS mengambil keuntungan dengan memunculkan tokoh-tokoh tersebut, tak terkecuali Soeharto yang masuk dalam kategori pahlawan dan guru bangsa?

Menurut Wakil Sekjen Bidang Komunikasi Politik DPP PKS, Fahri Hamzah, iklan politik PKS dalam memperingati hari Pahlawan 10 November, menampilkan tokoh-tokoh yang sudah meninggal. “Semua tokoh yang kita tampilkan adalah yang sudah meninggal. Sebagaimana manusia biasa, saat hidup tentunya ada baik dan buruknya,” katanya kepada INILAH.COM, Senin (10/11) di Jakarta.

Bukankah Soeharto belum menyandang predikat pahalwan? Fahri menegaskan, pihaknya tidak menyebut Seoharto sebagai pahlawan nasional. “Siapa yang sebut pahlawan. Kalau Pak Harto sebagai guru bangsa, ya,” tegasnya.

Menurut dia, memperdebatkan status Soeharto atau Soekarno sama saja memperdebatkan persoalan yang tidak substansial. “Harus melihat pesan dari iklan tersebut. Lihat susbtansinya, jangan lihat kulitnya,” ujar Fahri, aktivis 1998 yang turut melengserkan Soeharto dari kekuasaannya.

Sikap PKS yang cenderung melunak terhadap status Soeharto juga muncul saat Soeharto masih dirawat di RS Pusat Pertamina (RSPP) awal tahun ini.

Petinggi PKS menyerukan kepada pemerintah agar memaafkan Soeharto dari kesalahan masa lalu. Jelas seruan politik PKS menimbulkan polemik.

Apakah PKS mengambil keuntungan dengan menayangkan iklan kontroversial? Fahri tak menjawabnya dengan tegas. Menurut dia, kalau tidak ada polemik maka tidak ada pertemuan antar fikiran yang sehat. “Ini biar sehat,” kelitnya.

Belajar dari iklan pertama, dalam penayangan iklan tersebut, PKS juga tidak melakukan permintaan izin terhadap ahli waris para tokoh yang ditampilkan. Tak terkecuali kepada keluarga Cendana.

Sementara, Koordinator Gerakan Kaum Muda 1998, Ahmad Fauzi Ray Rangkuti menyesalkan penayangan iklan politik PKS yang menampilkan foto Soeharto di deretan pahlawan dan guru bangsa. “Soeharto tak layak disebut pahlawan, apalagi guru bangsa,” tegasnya dalam pesan singkatnya kepada INILAH.COM.

Menurut dia, tak ada alasan logis menyebut Soeharto sebagai pahlawan dan masuk kategori guru bangsa. Ray menegaskan, selama 32 tahun kekuasan Soeharto hanya menyumbangkan peradaban yang buruk kepada bangsa ini. “Era Soeharto penuh darah, KKN, moral busuk,” tegas Ray yang juga Direktur Eksekutif Lingkar Madani untuk Indonesia (Lima).

Hal senada disampaikan aktivis Forum Kota, Mixil Mina Munir. Menurut dia, menampilkan foto Soeharto dalam iklan politiknya menunjukkan partai pimpinan Tifatul Sembiring sebagai partai yang oprtunis. “PKS mau cari aman saja. Semua kelompok seolah-olah diakomodasi. Dari orde lama, orde baru, hingga orde reformasi. Dari kelompok nasionalis maupun Islam,” katanya.

Menurut dia, posisi oprtunis ini, akan membahayakan dalam sistem berbangsa dan bernegara. Menyikapi kondisi demikian, Mixil akan merapatkan barisan dengan aktivis 1998 merespon iklan politik PKS. “Setidaknya kita serukan ke publik agar dalam Pemilu 2009 untuk tidak memilih PKS,” katanya.

Apakah langkah ini tidak terjebak dalam politik praktis, Mixil tidak membantahnya. “Justru kita berkepentingan dengan Pemilu 2009, agar menghasilan wakil rakyat yang reformis,” tegas pria asal Jombang, Jawa Timur, ini.

Kepentingan? Ah, bukankah pada penyelenggaraan pemilu sebelumnya, terbukti juga sebagian besar aktivis mahasiswa, pada akhirnya adalah juga oportunis.

Bahkan aktivis paling radikal sekalipun. [I4]
Dibaca: 91

  beri komentar untuk artikel ini

Komentar Anda
  • Silakan untuk mengisi komentar yang tidak keluar dari topik artikel.
  • Semua komentar yang tidak berhubungan akan segera dihapus.
  • Termasuk semua link yang digunakan untuk kepentingan spam marketing dsb.
Nama:
E-mail
Judul:
Komentar:

Kode:* Code

Powered by AkoComment Tweaked Special Edition v.1.4.6
AkoComment © Copyright 2004 by Arthur Konze - www.mamboportal.com
All right reserved

 
< Sebelumnya   Berikutnya >

Cari Artikel