
| Parlemen Tak Ideal untuk Akomodasi Rakyat |
|
|
|
|
Kompas (13 September 2008) Jakartas - Kondisi parlemen saat ini sangat tidak ideal untuk mengakomodasi kepentingan masyarakat. Pasalnya, posisi anggota Dewan secara perorangan sangat lemah. Selain itu, parlemen pun tak bisa membuat anggotanya menjadi kuat dan tidak mempunyai agenda kerja kerakyatan. Otokritik ini disampaikan anggota Fraksi Partai Keadilan Sejahtera DPR, Fahri Hamzah, dalam diskusi ”Membangun Parlemen Pro Rakyat” di Jakarta, Kamis (11/9). ”Hak budgeting, pengawasan, dan pembuatan undang-undang yang dimiliki anggota Dewan pun sesungguhnya hanya kekuasaan semu. Pemerintah lebih unggul,” ujarnya. Dalam pembuatan anggaran, kata Fahri, DPR hanya mengkritisi anggaran yang dibuat pemerintah sehingga yang terjadi bagi-bagi anggaran saja. Begitu pula dalam hak pengawasan, pemerintah bisa tak mengindahkan usulan dan masukan dari DPR. ”Jadi, program pemerintah itu tetap berjalan dengan kemauannya sendiri dan persetujuan DPR hanya untuk legitimasi. Kalau tak setuju, ya tetap jalan juga,” ujarnya lagi. Sebelumnya, Bvitri Susanti dari Pusat Studi Hukum dan Kebijakan Indonesia mengatakan, ketidakpuasan masyarakat terhadap lembaga legislatif memang besar. Masyarakat juga banyak yang tidak tahu siapa wakilnya di DPR. ”Untuk memperbaiki ini, tidak ada jalan lain kecuali partai harus berbenah diri. Memperbaiki mekanisme kaderisasi dan penentuan calon anggota legislatif yang berkualitas,” ujarnya. Partai politik, menurut Bvitri, harus mengembangkan metode yang efektif untuk berdialog dengan masyarakat agar bisa menyerap aspirasi masyarakat. Anggota Fraksi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan DPR, Maruarar Sirait, mengakui, aspirasi masyarakat sulit diperjuangkan di DPR tanpa tekanan yang luar biasa dari masyarakat. ”DPR dan pemerintah memiliki masalah dalam membuat kebijakan yang melibatkan aspirasi publik yang mayoritas,” katanya. (mam) Dibaca: 102
Powered by AkoComment Tweaked Special Edition v.1.4.6 |
||||||||
| < Sebelumnya | Berikutnya > |
|---|




beri komentar untuk artikel ini