Jumat, 05 Desember 2008
Pertempuran Individu Mendominasi Politik PDF Print E-mail
Kompas (27 Juni 2008)
Jakarta - Dinamika politik di Indonesia didominasi oleh pertempuran individu politisi, bukan pertarungan ideologi di antara partai politik. Politisi pun hanya menjadikan partai politik sebagai kendaraan untuk kepentingan jangka pendeknya. Demikian dikatakan Firmanzah, Wakil Kepala Program Pascasarjana Ilmu Manajemen di Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, Jakarta, dalam peluncuran bukunya yang berjudul Mengelola Partai Politik, Komunikasi dan Positioning Ideologi Politik di Era Demokrasi di Jakarta, Kamis (26/6).

”Kita sering terjebak pada elitisme, mendudukkan politisi di atas parpol,” katanya lagi.

Dalam bukunya itu, Firmanzah sangat menekankan arti penting pemasaran ideologi partai dalam mengelola partai. Politisi masuk partai juga bukan hanya untuk menempatkan tokohnya menjadi ketua umum dan membumihanguskan yang kalah, tetapi yang terpenting adalah membangun sistem kepartaian.

Dia mencontohkan, meskipun sedemikian kuat pertarungan antara Barack Obama dan Hillary R Clinton di Partai Demokrat, hal itu tidak membuat perpecahan dalam tubuh partai tersebut.

Manajemen parpol, kata Firmanzah, sudah saatnya dikelola lebih serius, meliputi pola rekrutmen, penghargaan, dan sanksi atas hasil kerja, serta jenjang karier pekerja partai.

Yuddy Chrisnandi dari Fraksi Partai Golkar DPR, sebagai pembahas, menilai, banyak partai yang tidak berani menampilkan ideologinya secara tegas, termasuk Partai Golkar. Hal ini membuat pemilih sulit memahami ideologi partai yang satu dengan partai yang lain dan tak memiliki pendukung setia yang besar.

Fahri Hamzah dari Partai Keadilan Sejahtera menegaskan, Islam merupakan inspirasi dari partainya. Agama tidak membuat manusia bermusuhan satu sama lain, tetapi justru mempersatukan manusia.

”Tuhan menganjurkan orang yang beragama untuk memelihara keindahan yang Ia ciptakan,” lanjutnya.

Fungsionaris Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan Budiman Sudjatmiko menekankan, parpol harus mampu mentransformasikan tradisi yang ada di partai itu menjadi ideologi, platform, lalu kebijakan. Untuk itu, setiap partai harus memiliki filosofi.

”Hampir semua parpol sekarang ini tidak mempunyai filosofi politik,” ucapnya.

Pengamat politik Daniel Dhakidae, dalam pengantar diskusi, menyebutkan, selama Orde Baru, Indonesia tidak memiliki politisi. Yang ada hanyalah birokrat politik yang menjalankan kehidupan politik.

Hal ini disebabkan partai tidak mempunyai otoritas untuk menentukan sendiri apa yang akan dibuatnya. Saat itu hanya ada Golkar dan partai lainnya hanya menjadi satelit. Golkar merupakan satelit tentara. (sut)
Dibaca: 109

  beri komentar untuk artikel ini

Komentar Anda
  • Silakan untuk mengisi komentar yang tidak keluar dari topik artikel.
  • Semua komentar yang tidak berhubungan akan segera dihapus.
  • Termasuk semua link yang digunakan untuk kepentingan spam marketing dsb.
Nama:
E-mail
Judul:
Komentar:

Kode:* Code

Powered by AkoComment Tweaked Special Edition v.1.4.6
AkoComment © Copyright 2004 by Arthur Konze - www.mamboportal.com
All right reserved

 
< Sebelumnya   Berikutnya >

Cari Artikel