Rabu, 07 Januari 2009
Soeharto itu Guru Bangsa PDF Print E-mail
INILAH.COM - R Ferdian Andi R (11 Nopember 2008)
Jakarta – Seperti tak pernah jera oleh kontroversi iklan politiknya, Partai Keadilan Sejahtera (PKS) terus meluncurkan iklan politik versi baru. Kali ini iklan kampanye peringatan Hari Pahlawan itu lebih heboh. Mengapa?
Dalam iklan politik yang mulai tayang akhir pekan lalu di sejumlah stasiun televisi, PKS menampilkan beberapa tokoh Indonesia, dari Bung Karno, Pak Harto, KH Ahmad Dahlan, KH Hasyim Asy’ari, M Natsir, M Hatta, Jenderal Sudirman, dan Bung Tomo.

Di akhir tayangan iklan, muncul suara “Terima kasih guru bangsa, terima kasih pahlawan, kami akan melanjutkan langkah bersama PKS”. Apakah PKS mengambil keuntungan dengan memunculkan tokoh-tokoh tersebut ,tak terkecuali Soeharto yang masuk dalam kategori pahlawan dan guru bangsa?

“Soeharto itu guru bangsa,” cetus Wakil Sekjen Bidang Komunikasi Politik DPP PKS Fahri Hamzah kepada INILAH.COM, Senin (10/11) di Jakarta. Bagaimana argumentasi Fahri? Berikut ini wawancara lengkapnya:

Tayangan iklan terbaru PKS menampilkan HM Soeharto dalam deretan pahlawan dan guru bangsa. Ada penjelasan?

Itu semua orang yang ditampilkan adalah orang-orang yang meninggal. Sebagai manusia biasa, tentunya ada perbuatan baik dan buruknya. Katakanlah Soekarno dan Soeharto. Soekarno banyak masalahnya, ada dekrit presiden, pengumuman presiden seumur hidup, membubarkan Masyumi, menangkap aktivis Masyumi. Tapi banyak juga jasanya, dia proklamator pemersatu bangsa dan sebagainya. Pak Harto juga demikian. Yang harus didingat, mereka ini sudah meninggal. Kita tidak bisa mengambil apa-apa kecuali pelajaran, makanya kita sebut guru bangsa. Begitu cara melihatnya.

Bagaimana penjelasan PKS dengan status Soeharto yang masih belum menjadi pahlawan, tapi dalam iklan politik PKS disejajarkan dengan para pahlawan lainnya?

Kita tidak menyebut pahlawan. Di situ kan ada guru bangsa dan pahlawan, yang sudah jelas pahlawan ya disebut pahlawan. Yang disebut guru bangsa ya disebut guru bangsa.

Kali keduanya PKS sejak Oktober 2008 menampilkan iklan-iklan kontroversial. Apakah memang PKS sengaja menampilkan iklan kontroversial dengan mengambil keuntungan politik dari iklan yang kontroversial tersebut?

Kita harus lihat pesannya, lihat substansinya. Kita terlambat terus dari bangsa lain, karena perdebatannya tidak substansial, perdebatannya masih kulit terus. Kita masih meributkan Soekarno dan Soeharto. Ini perdebatan yang tidak substansial. Kalau mau kita buka saja perdebatan yang besar. Substansi dari iklan itu, kita tidak memberikan gelar pada orang per orang. Kita mengatakan mengucapkan terima kasih dan mengambil inspirasi dari masa lalu.

Apakah PKS sudah menduga sebelumnya, iklan-iklan seperti ini akan menimbulkan kontroversi di tengah masyarakat?

Ya. Kalau tidak ada polemik ya tidak ada kedewasaan, tidak ada pertemuan pikiran yang sehat. Baguslah.

Artinya memang PKS berharap keuntungan dengan iklan yang kontroversial?

Itu tidak kontroversial. Dari dulu kita sudah menampilkan foto-foto lambang pahlawan. Sejak Mukernas di Bali sudah kita tampilkan. Sekarang saja, muncul reaksi bahwa tokoh A adalah milik pribadinya.

Termasuk foto KH Hasyim Asy’ari dan KH Ahmad Dahlan?

Ya, mereka kan guru bangsa, milik publik, tidak bisa dimonopoli oleh kelompok tertentu. Lagian kita tidak melakukan klaim, kami hanya mengambil pelajaran dari mereka. Masak mengambil pelajaran dari orang, disalahkan.

Bukankah menampilkan tokoh tersebut dalam ranah politik seperti PKS lakukan akan mengerdilkan nilai yang dibangun oleh mereka?

Pertannyaan, apakah politisi tidak boleh mengambil pelajaran dari mereka?

Tapi dalam konteks mengambil kenutungan politik dengan menampilkan foto-foto mereka?

Makanya, saya mengusulkan kepada pengkritik, agar menonton lagi dengan baik dan jernih, apa pesannya. Kami tidak melakukan klaim kelompok. Yang kita lakukan mengajak semua orang untuk belajar baik dan buruknya dari mereka. Yang pasti mereka yang sudah meninggal. Kalau Pak Harto hari ini masih hidup, tidak mungkin kita pasang gambarnya. [P1]
Dibaca: 115

  beri komentar untuk artikel ini

Komentar Anda
  • Silakan untuk mengisi komentar yang tidak keluar dari topik artikel.
  • Semua komentar yang tidak berhubungan akan segera dihapus.
  • Termasuk semua link yang digunakan untuk kepentingan spam marketing dsb.
Nama:
E-mail
Judul:
Komentar:

Kode:* Code

Powered by AkoComment Tweaked Special Edition v.1.4.6
AkoComment © Copyright 2004 by Arthur Konze - www.mamboportal.com
All right reserved

 
< Sebelumnya   Berikutnya >

Cari Artikel