Rabu, 07 Januari 2009
Komitmen Kebangsaan PKS PDF Print E-mail
(catatan untuk M Alfan Alfian)
Oleh: Fahri Hamzah
Musyawarah Kerja Nasional Partai Keadilan Sejahtera (Mukernas PKS) yang berlangsung awal Februari 2008 lalu telah selesai dan mendatangkan banyak tanggapan.

Dilihat dari pilihan tempatnya bahkan juga telah mengundang banyak pendapat termasuk dari dalam partai sendiri. Tetapi, fenomena ini adalah sesuatu yang layak didiskusikan karena mengandung banyak makna bagi PKS dan bagi perpolitikan di tanah air kita. Karena itu, tulisan pendek ini ingin mengajak kita melihat beberapa esensi dari pesan Mukernas yang oleh sebagian kalangan dianggap kontroversial itu.

Wajah PKS

Istilah “wajah lain PKS”  dipakai oleh salah seorang pengajar di Fisip Universitas Nasional Jakarta, M Alfan Alfian (Kompas, 11/2/08). Alfan  melihat bahwa citra pluralis dan semangat kebangsaan yang diangkat dalam Mukernas Bali bisa membuat PKS menjadi kehilangan positioning-nya sebagai partai “berlabel Islam”. Padahal menurutnya, dari awal PKS memiliki jati diri sebagai partai Islam yang murni. Intinya,  jangan sampai PKS telah dipersepsi berubah karena adanya berita tentang  wacana partai terbuka. Sebagian yang lain menganggap bahwa justru wacana partai terbuka menguntungkan PKS sebab akan semakin banyak konstituen yang selama ini ragu dengan PKS menjadi tidak ragu untuk mendaftarkan diri menjadi kader, simpatisan dan pendukung partai.

Masalahnya adalah PKS tidak berubah wajah, dari dulu AD/ART sudah menulis bahwa PKS adalah partai berazas Islam (pasal 2 AD) dan partai yang menerima setiap warga negara Indonesia untuk menjadi anggota dan kader PKS sesuai dengan aturan AD/ART partai (pasal 8). Disatu sisi PKS adalah partai kader, karena itu partai ini mengatur katagori keanggotaan dan patisipasi (pasal 4 dan 5 ART) sambil tetap membuka diri bagi kerjasama dan koalisi sejauh menyangkut kepentingan mencapai cita-cita nasional dalam wadah Negara Kesatuan Republik Indonesia yang berdasar Pancasila dan UUD 1945 (Bab II AD).  Sejak awal ketua Majelis Syuro PKS, KH. Hilmi Aminuddin menegaskan bahwa bahwa bagi PKS masalah ideologi dianggap selesai. Karenanya PKS kita tahu sejak awal membatasi diri bicara tema-tema yang membatasi kerjasama antar kelompok.

Sejak awal, PKS menyadari bahwa partai ini dirancang menjadi besar melalui kerjasama. Karenanya,  Selain apa yang tercantum dalam konstitusi partai, “nuansa baru” ini dikomunikasikan secara sengaja dalam rangka mempersiapkan PKS sebagai partai besar yang sanggup mengakomodasi semua kepentingan dasar setiap warga negara. Inilah yang secara  sadar dilakukan oleh PKS. Meskipun kadang-kadang, definisi yang luas dan beragam dalam AD/ART serta pemikiran yang berorientasi ke depan ini juga sering disalahpahami oleh mereka yang biasa melakukan kategorisasi yang sempit. Bahwa kalau anda Islam anda tidak mungkin nasionalis, kalau partai kader, tidak mungkin punya massa, kalau partai da’wah maka tidak mungkin menerima semua orang, dan kalau anda nasionalis maka jangan berkoalisi dengan kelompok Islam, dll. Ini, bagi PKS, merupakan political split yang selamanya akan menghambat kita tumbuh sebagai bangsa besar.

Masa Depan

Kesadaran tentang besarnya tantangan masa depanlah yang membuat PKS ingin keluar dari pakem fragmentasi sosial politik konvensional. Komitmen kebangsaan jangan lagi kita jadikan alasan utuk saling menyalahkan. Di masa lalu, waktu kita hampir habis untuk konflik identitas yang tidak perlu. Itulah yang mendorong PKS mengadakan Musyawarah Kerja Nasional di Bali dengan mengambil tema yang  akan menyertai peringatan 10 tahun reformasi dan 100 tahun kebangkitan nasional pada tahun 2008 ini. Tema itu adalah, “Bangkitlah Negeriku, Harapan Itu Masih Ada!”, dan sub tema, “Dari Bali Untuk Kebangkitan Indonesia Kita!”. Tema ini memiliki beberapa dimensi yang ingin dikomunikasikan secara luas kepada bangsa Indonesia.

Pertama, tentang harapan. Bisakah kita mulai mengakui bahwa setelah 10 tahun reformasi ini kita seperti melihat bangsa yang kehilangan optimisme dan harapannya?. Kalau kita mulai menyebut semua peristiwa, baik yang merupakan ulah manusia, ulah alam atau ulah keduanya tentu kita akan mengatakan bahwa 10 tahun ini adegan kita memuakkan di antara tragedi dan kezaliman. Bencana alam dari tsunami di bagian barat negeri ini sampai ledakan pengeboran gas Lapindo yang telah menghilangkan sejarah  ribuan keluarga dan rumahtangga di Jawa timur. Belum lagi adegan korupsi, kriminalitas sosial, perkelahian antarkelompok dan khotbah pemerintah yang membingungkan adalah peristiwa yang hampir memadamkan harapan dalam diri kita.

Pesimisme ini makin mewabah karena kita saling menyalahkan. Karenanya justru kita harus mulai memiliki kebanggaan bersama yang dapat menjadi dasar optimisme dan harapan baru kita. Salah satunya adalah karena bangsa besar ini bertahan lama. 100 tahun memang terhitung masih muda dibandingkan negara-negara yang lahir sebelum abad 20 atau 19. Tetapi, bangsa ini memiliki pondasi  yang kuat untuk bertahan dalam ujian sejarah dalam keanekaragaman budaya dan tradisinya. Bayangkan, 17.000 pulau dengan budaya dan tradisi yang unik, bersepakat menjadi satu dan bertahan sampai hari ini.

Kedua, tentang kebangkitan. Apakah kita memiliki alasan untuk bangkit? Itu pertanyaan penting ditengah pesimisme yang merebak hampir merata. Apakah sejarah kita dapat menjadi sumber kebangkitan atau sejarah kita justru adalah justifikasi bahwa sesungguhnya bangsa ini adalah bangsa tempe yang terjajah lama karena tidak ada perlawanan?. Karenanya bersatunya ribuan pulau itu untuk merdeka adalah akibat akumulasi perasaan tertindas dalam waktu yang sangat lama 350 tahun lebih. Jadi, karenanya setelah 10 tahun reformasi belum akan ada tanda-tanda kebangkitan atau kesadaran kebangkitan, sampai keadaan kita lebih buruk lagi. Apakah ini yang akan terjadi?

Kita harus segera mengatakan tidak kepada argumentasi ini karena sesungguhnya kita memiliki 1001 alasan untuk bangkit. Kita hanya perlu tersadar segera untuk tidak diam dalam sedih dan perasaan bersalah, atau kebencian atas masa lalu yang kita kutuk tanpa maaf, padahal masa lalu kita juga adalah khazanah kejayaan yang hebat. Di sinilah diperlukan kematangan untuk terus optimis, menerima ujian dengan lapang dada, membaca dengan kesadaran yang tajam apa-apa yang sudah terjadi, menyusun strategi baru untuk bangkit dan menggulirkan rencana setahap- demi setahap kemajuan berikutnya. Inilah komitmen kebangsaan baru yang harus kita bangun bersama.
Dibaca: 494

  beri komentar untuk artikel ini

Komentar Anda
  • Silakan untuk mengisi komentar yang tidak keluar dari topik artikel.
  • Semua komentar yang tidak berhubungan akan segera dihapus.
  • Termasuk semua link yang digunakan untuk kepentingan spam marketing dsb.
Nama:
E-mail
Judul:
Komentar:

Kode:* Code

Powered by AkoComment Tweaked Special Edition v.1.4.6
AkoComment © Copyright 2004 by Arthur Konze - www.mamboportal.com
All right reserved

 
< Sebelumnya   Berikutnya >

Cari Artikel