KULTWIT
You are here: Home » Kultwit » KAMPUS PUN SUNYI. DEMOKRASI MATI.

KAMPUS PUN SUNYI. DEMOKRASI MATI.

Kampusku, bangkitlah kalian, eksistensi kalian mulai hilang, mengapa kalian biarkan?
Rektor sudah mati, dekan sudah di-persekusi, mahasiswa sudah pergi, mimbar kalian sudah terintimidasi dan sekarang dosen diusir dan ditangkapi.

Kampusku,
Masih adakah harapan bagi akal budi?

Teman-teman yang biasanya punya pendirian tentang kebebasan sipil, freedom of speech, HAM, dll sekarang mulai hilang. Lalu setelah Robert ditangkap, mungkin mulai menyesal. Entahlah, aneh saja kalian. Munafik dan menyebalkan. Kebencian kalian pada suatu kaum bikin kalian tumpul.

Aku sudah lama mengkhawatirkan tindakan aparat terkait kebebasan berpendapat. Tapi kalian menikmati benci kalian kepada yang ditangkap dan dipersekusi; Ratna, Dhani, Neno, Slamet, dan banyak lagi. Sekarang kezaliman ini mendekati kita dan kalian mau apa? Ayo puji aparat kalian!

Robert yang aku kenal gak pernah berubah, saya tahu dia sinis sama kami anak mushollah. Tapi aku hargai keberaniannya kepada rezim orde baru. Kritiknya di dalam kampus keras. Tapi dulu, meski orde baru rezim tentara, tetapi kampus masih bisa menegakkan mimbar akademiknya.

Robert, setahu saya kritis kepada cara negara menggunakan kekuasaan dan kepada pelibatan militer aktif dalam pemerintahan sipil. Tapi, setahu saya juga, dulu Robert tidak pernah ditangkap karena bicara. Tiba-tiba sekarang, ia ditangkap dan jadi tersangka. Ini agenda siapa?

Sekarang, secara kasat mata, aparat mendatangi kampus untuk melarang diskusi dan seminar, kelompok sipil bersenjata tajam kadang memburu pembicara sampai masuk ke bandara, dan menolak mereka datang bicara. Aparat kadang ikut mendesak pembicara pulang. Demi keamanan katanya.

Saya adalah Wakil Ketua DPR RI yang mengkordinir pengawasan sektor pendidikan tinggi, hanya bisa sedih karena ketika saya diundang ceramah oleh mahasiswa, rektor dan pejabat kampus ada yang ditekan dan akhirnya saya dilarang bicara. Ini gelap gulita dialami oleh banyak orang.

Apakah pak Jokowi tidak boleh dipersalahkan karena hilangnya kebebasan berpendapat ini? Lalu kita mau salahkan siapa?

Twitter @Fahrihamzah 7/3/2019

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Scroll To Top