KULTWIT
You are here: Home » Kultwit » KEBANGKITAN JIWA TAK BOLEH PADAM

KEBANGKITAN JIWA TAK BOLEH PADAM

ada 20 Mei:
1883 – Gunung Krakatau mulai meletus.
1908 – Organisasi Budi Utomo didirikan oleh para pelajar STOVIA (Sekarang FKUI). Diperingati sebagai Hari Kebangkitan Nasional.
2002 – Timor Timur menjadi negara Timor Leste setelah lepas dari Indonesia tahun 1999.
(Wikipedia)

Pada 20 Mei 2019 kita memperingati Hari Kebangkitan Nasional. Peristiwa yang ditandai sejak kelahiran Budi Utomo 111 tahun lalu pada tahun 1908 adalah sebuah momentum penting bangkitnya kesadaran nasionalisme INDONESIA. Mari sejenak kita merenungi arti hari itu.

Suasana yang membuat Bung Karno tahun 1959 menetapkan 20 Mei sebagai Hari Kebangkitan Nasional atau disingkat Harkitnas sebetulnya luas. Paruh pertama abad-20 memang sedang dipenuhi oleh suasana kebangkitan, orang-orang mulai mengidentifikasi diri sebagai “orang INDONESIA “.

Di awal abad, 1905 muncul Serikat Dagang Islam, mereka menentang penguasaan ekonomi oleh “non pribumi”, lalu 1906 menjadi Syarekat Islam, 1912 Muhammadiyah berdiri, sebelumnya Budi Utomo juga berdiri dipelopori oleh para dokter.

Ada sebuah kisah penting yang saya baca di buku kakeknya Prabowo, RM. Margono, tentang Ki Hajar Dewantara yang menulis “Als ik eens Nederlander was” (“Seandainya aku seorang Belanda”), pada tanggal 20 Juli 1913 yang memprotes keras rencana Belanda merayakan kemerdekaan.

Tulisan Soewardi Suryaningrat (nama asli Ki Hajar Dewanta) yang dimuat di surat kabar De Express pada 13 Juni 1913 itu, tidak saja menggemparkan tapi juga membuat beliau ditangkap dan diasingkan ke negari Belanda. Tulisan itu kini ada di media internet. Silahkan dibaca.

Ki Hajar bertanya, mengapa Belanda tega menyelenggarakan peringatan hari kemerdekaannya ke-100 di sebuah negara yang ia jajah? Bukankah artinya Belanda cinta tanah air? Juga patriot yang merindukan kebebasan dan kemerdekaan. Maka, “apakah peringatan itu etis?”

Demikianlah suasananya… ada hal lain yang juga penting diingat, tentang peran para dokter di masa pra kemerdekaan yang awalnya di sebuah “Sekolah Dokter Djawa” yang kemudian menjadi STOVIA (School tot Opleiding van Indische Artsen) (Sekolah Pendidikan Dokter Hindia).

Para dokter di masa itu adalah penggerak perubahan. Mereka berserakan di organisasi dan pergerakan yang bertujuan mengkonsolidasikan kekuatan rakyat melalui pendidikan atau gerakan massa. STOVIA, itulah sekolah kedokteran yang akhirnya menjadi FKUI sekarang.

Saya jadi teringat dokter-dokter legendaris di kalangan mahasiswa sejak zaman dulu sampai sekarang…. orang-orang STOVIA, dokter-dokter Jawa dan para dokter pengukir sejarah… saya dekat dengan bang Hariman Siregar pemimpin Malari 1974… sekarang kita mengenal Ani Hasibuan… semua dari FKUI.

Maka, hari ini 20 Mei 2019 adalah momentum mengenang kembali peristiwa-peristiwa yang membuat negara terbentuk. Orang-orang pada paruh awal abad 20 adalah mereka yang warnanya jelas. Mereka berjuang untuk perubahan. Mereka tidak peduli intimidasi karena mereka bergerak mendahului waktu.

Saya juga teringat 21 tahun lalu. Saya duduk dini hari bersama Prof. Amien Rais di depan media nasional membatalkan sebuah aksi “peringatan Hari Kebangkitan Nasional di lapangan Monas”. Kami mengumumkannya beberapa hari sebelumnya. Ini puncak protes kepada rezim orde baru.

Kami batalkan acara itu karena ada ancaman pembantaian yang dikabarkan kepada pak Amien. Kami sendiri mengecek situasi Monas tanggal 19 Mei 1998 malam. Dan Monas dipenuhi oleh peralatan perang. Ada mobilisasi persenjataan secara massif. Nampaknya ada niat tidak baik.

Maka, 20 dini hari acara kami batalkan. Tapi, tanpa diduga, tepat tanggal 21 Mei 1998 presiden Suharto mengundurkan diri dari Jabatan presiden dan digantikan oleh wakil presiden BJ. Habibie. Proses berlangsung cepat dan damai, seluruh mahasiswa bersujud syukur gembira.

Kini, pada Hari Kebangkitan Nasional yang sama tanggal 20 Mei 2019 21 tahun kemudian kita merasakan ketegangan yang sama. Pasti ada kebuntuan. Pasti ada sebab yang panjang sebab konsentrasi massa tidak mungkin muncul seketika. Tapi, apa makna semua ini bagi sebuah bangsa?

Saya cenderung memberinya makna yang positif. Bahwa dalam tubuh bangsa kita ada “tenaga jiwa” yang tak pernah diam dan selalu tampil pada saat diperlukan. Ini gelora zaman, penanda adanya sesuatu yang mengharuskan kita bangun dan mengurai kesadaran.

Marilah dewasa bangsaku. Kita harus mau menerima perbedaan, jangan musuhi aspirasi dan kebebasan untuk, “bersyarikat, berkumpul, menyatakan pendapat baik secara lisan maupun tulisan…”. Jangan menentang demonstrasi dan protes sebab itu kanal bagi arus pikiran dan perbedaan.

Tapi, apabila disumbat, diancam dan dikriminalisasi, itu seperti membangun tanggul dan dam bagi air yang selalu mengalir mencari titik terenda untuk diisi dan dikoreksi. Lihat saja, dam dan tanggul akan jebol dan air bah bisa saja datang menjadi bencana bagi kita semua.

Saya hanya mengingatkan perlunya kedewasaan dan kekuasaan yang berwajah ramah. Buat apa mengancam dan menggunakan kekuasan untuk mengancam dan menekan? Sadarlah bahwa rakyat adalah tenaga yang permanen dalam sejarah kita. Jangan ditekan sebab ia dapat melawan balik dengan keras.

Semoga kita dapat menangkap jiwa dari Hari Kebangkitan Nasional ke-111 ini. Sekali lagi dalam suasana Ramadhan 1440 H saya mengucapkan selamat Hari Kebangkitan Nasional semoga jiwa kebangkitan tak pernah padam.

Allahu Akbar! Merdeka!

Twitter @Fahrihamzah 19-20/5/2019

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Scroll To Top