KULTWIT
You are here: Home » Kiprah » “Pidato Pemimpin Bangsa Ini Tidak Lagi Menarik Rakyatnya”

“Pidato Pemimpin Bangsa Ini Tidak Lagi Menarik Rakyatnya”

Wakil Ketua DPR RI Fahri Hamzah didaulat menjadi pembicara kunci sekaligus membuka acara Kajian Konstitusi Indonesia yang diselenggarakan oleh Ikatan Alumni UI (ILUNI UI) Berbadan Hukum dengan Sekretariat Jenderal MPR RI di ruang GBHN DPR RI (13/).

Acara yang bertema “Dari Keterbelakangan Menuju Neokolonialisme (Ekonomi Politik Indonesia)” itu dihadiri sejumlah tokoh Alumni UI, mulai dari Chusnul Mar’iyah (mantan anggota KPU RI), Ichsanuddin Noorsy (ekonom), Peter Soemaryoto (aktivis UI), dan Ima Soeriokoesoemo (Ketua ILUNI UI Berbadan Hukum). Tak ketinggalan pula beberapa senior alumni UI seperti mantan Rektor UI dan Anggota DPR RI yang turut hadir di acara tersebut.

Dalam sambutannya, Bung Ima menyampaikan beberapa pesan yang menjadi gagasan acara ini. Pertama bahwa bangsa ini harus kembali menjadi subyek tanah air indonesia. Tidak lagi menjadi obyek. Subyek artinya berdaulat atas apa yang kita milki. Kedua, bahwa konstitusi bangsa ini harus menjadi aturan main utama dan menjadi penentu perjalanan bangsa. Ketiga, fundamental NKRI sebagai sebuah negara kebangsaan harus dikembalikan, agar kedaulatan dan kehormatan bangsa bisa kita tegakkan kembali.

Ima juga menyatakan keprihatinan atas masa depan pendidikan dan kampus. “Pendidikan kita hanya menghasilkan lulisan bermental kuli. Kita tidak lagi menghasilkan para intelektual-intelektual yang berorientasi untuk memikirkan bagaimana masa depan bangsa ini. ILUNI UI harus membentuk barisan intelektual yang sungguh-sungguh berjuang untuk mengembalikan cita-cita kemerdekaan Indoensia”, katanya menutup sambutan acara tersebut.

Sementara dalam pidatonya, Fahri Hamzah menyampaikan kritik yang dalam atas konstitusi bangsa ini. “Di ruangan inilah, kita -para pemikir bangsa ini- telah melakukan 4 kali Amandemen UUD 1945. Ada penambahan Pasal 33 ayat 4. Dalam amandemen pertama, saya masih ingat, saya menjadi Tenaga Ahli MPR RI. Waktu itu dibentuk Tim Transisi Menuju Masyarakat Madani”.

Menurut Fahri Hamzah, memang ada diskursus tentang Ayat 4 Pasal 33 hasil Amandemen yang menurut banyak pemikir konstitusi, telah menjadi celah bagi masuknya Kapitalisme dan modal yang merenggut kedaulatan Indonesia atas kekayaan tanah dan air yang dikandungnya. Tapi, Fahri Hamzah juga menekankan bahwa kita tak perlu melakukan Amandemen ke-5 karena celah itu bisa kita kuatkan lewat Undang-Undang pendukung untuk memproteksi seluruh kepentingan kita atas kekayaan bangsa ini.

Bahwa makna dari Pasal 33 yang pernah digagas oleh pendiri bangsa ini adalah; Indonesia adalah bangsa besar yang akan mendayung diantara dua karang. Tidak terjebak sosialisme-komunisme dan tidak terjebak pada perangkap kapitalisme liberal. Indonesia harus menjadi jalan tengah diantara dua titik ekstrim. Jika kita mampu menemukan kembali semangat itu dalam UUD 1945 sekarang dan terutama Pancasila sebagai sebuah kesimpulan, maka gemanya akan mempersatukan nusantara dan membawa Indonesia menjadi negara besar yang akan menumbangkan isme-isme lain yang telah usang itu.

Fahri Hamzah juga menceritakan timeline gelombang dua puluh tahunan bangsa ini. Bahwa bangsa ini telah menuju kepada titik krusial. Gelombang dua puluh tahunan yang berarti titik puncaknya ada di tahun 2018 adalah cara Indonesia hadir secara utuh diatas panggung sejarah. Indonesia akan berada disimpang pertanyaan; kita akan berjalan kemana. Kita mesti baca seluruh tanda-tanda dari sekarang agar kita antisipatif. Agar gelombang itu bukan menjadi titik mundur. Tapi maju. Gelombang duapuluh tahunan adalah cara generasi Indonesia ini tumbuh menjadi lebaih baik.

Fahri Hamzah juga menyatakan keprihatinannya atas semakin sedikitnya para pemikir dan narator bangsa yang mampu memikirkan dan mengkonstruksi keadaan kita. Menjelaskan narasi baru Indonesia.

“Pidato pemimpin kita tidak lagi menarik. Presiden tidak lagi mampu menjelaskan kepada rakyatnya; akan kemana bangsa itu bergerak. Baik itu teoritis dan operasional. Pemimpin bangsa tidak didengar lagi. Presiden melempar isu tapi setelah itu tidak diperdebatkan oleh rakyatnya. Presiden tidak mampu mengobarkan semangat kepada bangsanya yang semangat itu bisa membangkitkan kesadaran rakyat atas situasi bangsa hari ini”, lanjutnya.

Kepada ILUNI, Fahri Hamzah juga memberikan pesan. Semacam pesan perjuangan. ILUNI UI harus mengantisipasi potongan sejarah 20 tahunan. Mengantisipasinya dengan naratif. Di negeri ini, tidak ada pemimpin bangsa yang lahir dari rencana yang matang. Semua lahir dengan insiden. Maka tugas kita adalah menyiapkan narasinya. Ada peristiwa antara yang bisa kita siapkan.

Menutup sambutannya, Fahri Hamzah memberikan kado berupa Buku “Paradoks Indonesia” yang merupakan Pandangan Strategis Prabowo Subianto atas situasi ekonomi bangsa ini yang berada dalam situasi yang kita sebut “neokolonialisme”. Banyak sekali data dalam buku tersebut yang menggambarkan bahwa kedaulatan bangsa ini telah berada di ujung keruntuhan dan menjadi tugas kita untuk menegakkannya kembali.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Scroll To Top