KULTWIT
You are here: Home » Kultwit » Pilkada DKI

Pilkada DKI

#PilkadaDKI ini menghitung hari menuju jam….kalau ada dana kita bisa bikin video pendek tentang asal muasal semua ini..

Kisah yang kita buat dalam TL sederhana tentang dari mana semua ini berasal… kenapa jadi sengkarut yg rumit..

Jangan lupa bahwa awalnya adalah pilkada sebelumnya… ketika pasangan Jokowi – Ahok berjanji memimpin Jakarta sampai akhir..

Pasangan itu berhenti di tengah jalan.. karena Jokowi menjadi presiden melawan orang yg berjasa pada mereka..

Ini bukan soal tidak bisa move on tapi ini soal fakta sejarah yang tidak boleh kita lupa.

Singkat cerita Ahok jadi Gubernur sebagai akibat Jokowi menjadi presiden..

Dan setelah menjadi gubernur nampaknya ahok melakukan begitu banyak provokasi. Tonton aja lagi.

Provokasi itu bikin segala macan tidur terbangun. Jangan lupa bahwa bukan macan yang salah.

Provokasi ahok telah membuat masyarakat terbelah. Kita bersyukur ada 3 kandidat di awal. Tak terlalu diametral.

Tadinya kita kira yang akan jadi figur alternatif adalah agus vs ahok. Ternyata Anies yang kebetulan didukung konfigurasi pilpres 2014.

Maka yang bertanding akhirnya bukan saja cagub tapi juga capres. Dan pak Jokowi telah ambil posisi.

Dapatlah kita mengerti sekarang bahwa ini adalah peta yang sudah ada. Ini pra kualifikasi pilpres 2019.

Maka semua elemen telah diajak bertanding. Dan semua sumberdaya telah ditumpahkan.

Segala ilmu dalam pergulatan telah dipakai. Ilmu lama dalam pilpres 2014 rupanya juga dipakai lagi.

Kita harus akui bahwa ini adalah pertarungan besar. Yang akan mempengaruhi seluruh lanskap politik masa depan.

Ahli ilmu politik modern akan membaca ini secara terang sebagai persaingan antara 2 kelompok besar.

Belum ada nama pastinya tetapi kami pernah berikhtiar membuat Koalisi. Namanya KMP. Koalisi Merah Putih.

Inilah kelompok yang setia dengan fondasi negara NKRI dengan seluruh sejarah dan latarnya.

Mungkin ini mirip dengan kelompok republik di Amerika serikat. Tapi kita perlu punya nama sendiri.

Lawannya adalah kelompok masa kini; liberal, global, sekular, tapi tidak paham sejarah sendiri. Tidak percaya pribumi.

Selanjutnya kita perlu kajian. Tapi jangan bayangkan ini sederhana. Ini rumit. Banyak teori baru.

Tapi yang jelas. Trend PilkadaDKI kira-kira adalah polarisasi antara 2 kelompok yang berciri;

Pengusaha vs negara. Maksudnya membangun dengan cara bisnis. Mengabaikan prosedur negara.

Fakta vs fantasi. Maksudnya kepandaian mengubah fakta kemiskinan, penggusuran, dll dengan fantasi multimedia.

Demokrasi vs Oligarki. Maksudnya adalah keputusan pembangunan tidak melibatkan (DPRD) tapi pengembang tata kota.

Hati vs Materi. Karena kota adalah bukan sekedar tempat persaingan materi tetapi juga tempat menitipkan harapan dan cinta.

Antara Musyawarah dan Menggusur. Bahwa tradisi bermusayawarah adalah nilai luhur bangsa.

Manusia vs Beton. Bahwa membangun bukan fisik tetap manusia dengan seluruh dimensinya.

Harmoni vs Konflik. Bahwa tugas pemerintah adalah membangun harmoni bukan menciptakan konflik.

Persuasi vs provokasi. Bahwa jalan pemerintah adalah jalan mengajak bukan jalan membentak.

Ramah vs marah. Gubernur adalah wajah ramah tempat semua orang dengan berbaga latar menatap. Mencari kesejukkan.

Bersatu vs berpecah. Gubernur adalah yang bisa.menjamin persatuan dan bukan yang membangun perpecahan.

Proses vs tujuan. Sebetulnya keduanya tidak perlu dibenturkan tetapi kalau hanya tujuan banyak korban berjatuhan. Di jalan.

Teliti vs instan. Jangan dibiasakan segala hal asal jadi padahal suatu hari bisa jadi sumber kegagalan.

Sekali lagi teliti, teliti ini bukan bikin roti. Tapi kita membangun peradaban.

Di ujung kisah ini, saya ingin mengungkap bagaimana petahana menjalankan rencananya. Untuk berkuasa kembali.

Pertama, meng-klaim presiden Jokowi. Seolah ini adalah dwitunggal abadi yang takkan bisa dipisahkan.

Lalu klaim itu betul-betul dilakoni dan saya kira karena memang sejak awal pasangan ini maju bersama di PilkadaDKI

Jadilah ada mobilisasi dukungan presiden sejak awal kepada gubernur DKI. Ini yg menyebabkannya merasa tidak perlu orang lain.

Gubernur DKI tidak saja berkelahi dengan DPRD dan FPI tetapi juga dengan kepala daerah tetangga bahkan dengan menteri.

Memang jangan lupa DKI adakah ibukota negara dengan ekonomi terbesar ke 15 di dunia. Apa yg tidak ada.

Tidak saja dengan APBD yang sekarang melebihi 70 triliun rupiah tapi oleh uang swasta.

Semua perusahaan besar berkantor di DKi dan 150-an BUMN juga ada di kota ini.

Semua pejabat tinggi dan pengusaha raksasa yang bisa dilobi tinggal di kota ini. Cari apa lagi?

Itu sebabnya saya kayaknya DKI tidak perlu materi. Semua sudah ada di sini. DKI memerlukan imajinasi.

Imajinasi tentang kota yang menjadi perlambangan Indonesia yang maju dan modern tanpa kehilangan jatidiri.

Imajinasi tentang kebebasan manusia untuk berpikir dan berkarya tentang kehidupan yang penuh persaudaraan.

Setiap pagi, ketika rakyat indonesia membaca koran pagi atau menonton tv, semua bermula dari ibukota.

Bayangkan jika Jakarta tampil tiap pagi sebagai pesona imajinasi Indonesia yg memberi inspirasi dan tenaga kepada negeri.

Saya.membayangkan sebuah orkestra yang penuh harmoni. Luar biasa menginspirasi anak negeri.

Dan jakarta tempat presiden dan para pejabat tingginya menetap dapat memulai revolusi mental.

Tapi sekarang apa yang terjadi?
Silahkan pikirkan sendiri.
Selamat pagi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

viewporntube indobokep
Scroll To Top