KULTWIT
You are here: Home » Kiprah » Warga Tidak Perlu Khawatir Hasil PRG Pertanian

Warga Tidak Perlu Khawatir Hasil PRG Pertanian

1652039620X310JAKARTA (Pos Kota)- Masyarakat tidak perlu merasa khawatir dalam mengkonsumsi hasil pertanian dari produk rekayasa genetik yang merupakan aflikasi bioteknologi yang sudah sangat umum digunakan.

“Rekayasa genetik secara konvensional sebenarnya sudah sejak lama dilakukan. Produk pertanian yang kita konsumsi saat ini sebenarnya sudah sangat berbeda dengan tanaman aslinya,” kata Guru Besar Program Studi Bioteknologi IPB Antonius Suwanto di sela-sela diskusi Dukungan Rekayasa Genetik dalam Ketahanan Pangan yang diselenggarakan Forum Wartawan Pertanian bekerjasama dengan Croplife di Cibinong, Bogor, Jawa Barat.

Menurut Antonis, banyak manfaat dari kegiatan rekayasa genetik di sektor pertanian. Misalnya, untuk menghasilkan tanaman yang tahan hama penyakit, sehingga mengurangi penggunaan bahan kimia dari pestisida.Salah satu contohnya adalah, kapas BT hasil rekayasa genetik yang tahan terhadap hama ulat.

Aspek lainnya bukan hanya menghasilkan produk yang tahan hama saja, tapi juga tanaman yang tahan iklim ekstrim seperti kekeringan. ”Jadi kegiatan rekayasa genetika bukan sekadar menurunkan penggunaan pestisida, tapi juga meningkatkan produksi,” ujarnya.

Karena itu menurut Antonius, bioteknologi bisa memberikan nilai tambah yang besar terhadap produk pertanian. Namun demikian dia mengakui, teknologi rekayasa genetik atau geneticaly modified organism (GMO) hanya alternatif dan bukan satu-satunya cara dalam mengembangan produk pertanian.

Pro kontra produk rekayasa genetik (PRG) seharusnya tidak perlu terjadi. Sebab, di alam proses modifikasi genetik sudah ada secara alami. Lalu dengan ilmu pengetahuan manusia mengadakan perubahan, baik melalui seks, kimia maupun fisik.

Cara seks misalnya terjadinya penyilangan tanaman toisinte secara berkelanjutan sehingga menghasilkan tanaman yang sekarang kita kenal menjadi jagung. Contoh lainnya pada umbi singkong aslinya tidak bisa dimakan karena mengandung racun sianida.Tapi setelah melalui proses rekayasa genetika akhirnya bisa dikonsumsi manusia.

Sedangkan contoh rekayasa genetik buatan secara fisik adalah pengembangan kedelai varietas Rajabasa yang dilakukan Badan Tenaga Nuklir (Batan) dengan teknologi nuklir. Rekayasa ini dilakukan agar didapat sejumlah keunggulan dari varietas asalnya.
”Jadi mengubah genetik bukan persoalan baru. Sebagian produk produk pertanian yang ada saat ini merupakan hasil modifikasi genetik baik secara alami maupun buatan,” tambahnya.

Rekayasa genetik buatan diperlukan karena yang natural tidak selalu memiliki sifat seperti yang dinginkan. Jika kemudian ada pendapat bahwa rekayasa genetik akan beresiko, Antonius berpendapat, semua teknologi akan mengandung resiko yang konsekuensinya sulit diprediksi.

Sementara itu Ketua Croplife Indonesia, Soegiono mengatakan, bioteknologi sebatas alat untuk menghasilkan produk baru. Namun yang disesalkan adalah banyak yang menentang produk rekayasa genetik, tapi justru mengonsumsi produk tersebut.

“Sudah hampir 15 tahun, kita mengimpor kedele dari negara yang menghasilkan kedelai transgenik. Padahal kedelai tersebut sering kita konsumsi,” ujarnya.

Sedangkan Kepala Pusat Penelitian Bioteknologi LIPI, Witjaksono mengatakan teknologi rekayasa genetik hanya sebagai alat untuk memberikan keunggulan kepada produk pertanian. Misalnya, pengembangan tebu transgenik yang adaptif kekeringan dan jagung tahan hama penyakit.

Meski demikan Witjaksono mengakui, teknologi rekayasa genetik bukan yang utama dalam memberikan keunggulan pada produk pertanian. Masih ada teknologi lainnya seperti hibridisasi dan teknologi budidaya lainnya. ”Jadi jangan menganggap rekayasa genetik sebagai yang utama. Ini salah juga,” ujarnya.

Apalagi kemudian menganggap bioteknologi mampu meningkatkan kesejahteraan petani dalam waktu singkat. padahal kesejahteran petani banyak faktornya, bukan sekadar peningkatan produksi dari hasil rekayasa genetik.

Sedangkan Peneliti Balai Besar Bioteknologi dan Genetika (BB Biogen), Litbang Pertanian Bahagiawati mengatakan, pemerintah tetap memegang prinsif kehati-hatian terhadap produk rekayasa genetik ini. Karena itu sebelum sebuah produk hasil rekayasa genetik dilepas secara komersial harus melalui uji keamanan lingkungan, pangan dan pakan.

(faisal/sir)

poskotanews.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Scroll To Top