KULTWIT
You are here: Home » Artikel » KRONOLOGI DAN RANGKAIAN KEJANGGALAN DALAM PROSES PEMECATAN FAHRI HAMZAH (II. PROSES PERMINTAAN MUNDUR)

KRONOLOGI DAN RANGKAIAN KEJANGGALAN DALAM PROSES PEMECATAN FAHRI HAMZAH (II. PROSES PERMINTAAN MUNDUR)

Tercatat 5 (lima) kali pertemuan Saya dengan Ustadz Salim sejak beliau terpilih menjadi Ketua Majlis Syuro pada bulan Agustus 2015. Pertemuan pertama terjadi pada tanggal 10 Oktober 2015. Saya dipanggil untuk pertama kali untuk menghadap kepada beliau sebagai Pimpinan Baru Partai. Dalam pertemuan tersebut hadir Ustadz Hidayat Nurwahid dan Presiden Partai Sdr. M. Sohibul Iman. Saya menyambut baik pertemuan tersebut sebagai ajang konsolidasi pengurus baru dengan kader yang menemapati posisi sebagai pejabat publik. Dalam pertemuan tersebut, Ustadz Salim menyampaikan bahwa tidak akan ada pergantian di jajaran Pimpinan DPR dan MPR, untuk itulah Saya memaknai pertemuan tersebut dalam kapasitas Saya sebagai Wakil Ketua DPR RI dan Ustadz Hidayat sebagai Wakil Ketua MPR RI. Khusus kepada Saya, Ustadz Salim menyampaikan agar sedikit kalem dalam berkomunikasi serta meminta Saya untuk menggunakan Kopiah. Sejak saat itu nasehat beliau Saya laksanakan dengan penuh kesadaran, gaya komunikasi politik Saya mulai sedikit berubah dengan mengurangi komunikasi media. Sikap Saya terlihat begitu jelas, bahwa Saya jauh lebih cendrung banyak diam dibandingkan dengan di masa kepemimpinan Ustadz Hilmi Aminuddin. Hal ini sekaligus sebagai koreksi atas kronologi yang dibuat oleh DPP PKS yang menyebutkan bahwa briefing awal dilakukan tanggal 1 September 2015, Saya memiliki dokumentasi tertulis karena Saya mencatat detail materi pertemuan yang sekaligus sebagai dokumentasi yang menunjukkan penanggalan pertemuan tersebut.

Lalu hanya berselang 13 hari setelah pertemuan tersebut. Saya kembali dipanggil oleh Ustadz Salim pada tanggal 23 Oktober, dan beliau menyampaikan keinginan pribadi beliau agar Saya mundur dari jabatan pimpinan DPR. Saya melihat ada keraguan pada diri Ustadz Salim dalam menyampaikan hal tersebut. Sebagai kader, Saya tidak mau melihat beliau memiliki keraguan dalam berkomunikasi, sehingga Saya berkata “Saya adalah Jundi (Kader yang patuh) jabatan adalah amanah”. Yang Saya maksudkan adalah bahwa Ustadz tidak perlu ragu menyampaikan hal tersebut karena jabatan dalam sistem kepartaian kita bukanlah pencapaian sehingga harus dipertahankan, hanya saja Saya membutuhkan waktu dan alasan yang tepat agar tindakan yang Saya ambil dapat mencapai kemaslahatan. Pertemuan pertama yang penuh kekeluargaan tersebut selanjutnya melahirkan rentetan pertemuan lainnya antara Saya dan beliau sebagai pribadi, yaitu tanggal 1 desember 2015, 11 Desember 2015 dan 16 desember 2015. Pertemuan pertemuan tersebut isinya lebih sebagai diskusi untuk mempertimbangkan berbagai hal dalam memutuskan perkara berhentinya seorang pimpinan DPR RI. Berikut kronologi pertemuan Saya dengan Ustadz Salim hingga pada proses pemecatan.

III. RINCIAN MATERI PERTEMUAN SAYA DENGAN USTADZ SALIM

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Scroll To Top