KULTWIT
You are here: Home » Artikel » KRONOLOGI DAN RANGKAIAN KEJANGGALAN DALAM PROSES PEMECATAN FAHRI HAMZAH (VI. PANGGILAN MAJLIS TAHKIM)

KRONOLOGI DAN RANGKAIAN KEJANGGALAN DALAM PROSES PEMECATAN FAHRI HAMZAH (VI. PANGGILAN MAJLIS TAHKIM)

  • 18 Februari 2016

Majlis Tahkim mengirimkan surat Panggilan kepada Saya untuk hadir dalam persidangan tanggal 22 Februari 2016 saat Saya sedang berada di Azerbaijan dalam kunjungan Muhibbah Parlemen. Panggilan Majlis Tahkim tersebut begitu janggal karena pertama: dakwaan yang dibacakan oleh BPDO yang telah Saya minta petikan tertulisnya belum diberikan. Kedua, apa yang menjadi keputusan Majlis Qodho tidak pernah Saya ketahui. Setelah sidang pembacaan dakwaan oleh BPDO di hadapan Majlis Qodho, Saya tidak pernah dipanggil untuk menghadiri sidang pembacaan putusan dan atau diberikan petikan putusan Hakim. Padahal dalam sistem PKS, Majlis Tahkim adalah pengadilan tertinggi yang hanya melakukan sidang jika terdapat putusan sanksi berat yang dari Majlis Qodho dan atau tempat melakukan banding oleh teradu pasca persidangan majlis Qodho. Namun yang terjadi, Saya tidak pernah mengetahui kapan persidangan embacaan putusan Majlis Qodho dilakukan dan apa hasil putusan sidang. Saya justru langsung mendapatkan panggilan sidang ke Majlis tahkim. Terkait surat panggilan tersebut, Saya kembali melayangkan surat agar dilakukan penjadwalan ulang sembari meminta kembali apa yang menjadi hak hak Saya sebagai teradu yang akan diadili dalam sebuah persidangan. (ini adalah surat Saya yang ke -7)

  • 23 Februari 2016

Tanpa menjawab permintaan tertulis Saya, Majlis Tahkim kembali melayangkan Surat Panggilan ke dua kepada Saya untuk menghadiri persidangan tangal 25 Februari 2016. Surat tersebut kembali Saya balas sembari mengingatkan agar Majlis Tahkim dapat menghormati kemerdekaan seseorang dalam mendapatkan informasi terkait masalah apa yang ditimpakan, dengan mengutip pasal pasal dalam konstitusi tentang HAM untuk mengingatkan bahwa Saya dan juga Majlis Tahkim berada dalam wilayah hukum Negara Kesatuan Republik Indonesia dan wajib menjunjung tinggi hukum yang berlaku. Hal tersebut penting agar hasil persidangan memiliki legitimasi yang kuat secara hukum. Saya menyampaikan dalam surat, jika panggilan panggilan Majlis Tahkim hanya untuk mempercepat prasyarat tiga kali pemanggilan, maka Saya menyatakan tidak akan hadir karena saya tidak menemukan Majlis Tahkim sebagai tempat yang tepat untuk mendapatkan keadilan. (ini adalah surat Saya yang ke -8)

  • 8 Maret 2016

Kembali tanpa menjawab surat tertulis Saya, Majlis Tahkim kembali melayangkan surat panggilan ke tiga kepada Saya untuk menghadiri sidang pada tanggal 11 Maret 2016. Menanggapi panggilan ke tiga tersebut Saya melayangkan surat balasan sebagai penegasan bahwa Saya tidak akan menghadiri persidangan tanpa dipenuhinya terlebih dahulu apa yang menjadi hak hak Saya sebagai teradu. (ini adalah surat Saya yang ke -9, dan tidak pernah ada jawaban atau perhatian sama sekali).

  • 11 Maret : Keputusan Majlis Tahkim tentang pemecatan Saya dibuat.
  • 15 Maret: seorang pimpinan Fraksi di DPR RI memberitahukan Saya bahwa dia melihat surat pemecatan Saya di tangan seorang pengusaha.
  • 2 April 2016

Mulai beredar petikan putusan Majlis Tahkim tentang pemecatan Saya secara masif di media massa.

  • 4 April 2016

Saya baru mendapatkan kiriman putusan Majlis Tahkim melalui Sdr. Abdullah seorang Office Boy di Kantor DPP PKS pukul 19.45.

VII. OPERASI MEDIA DAN SOSIALISASI STRUKTUR

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Scroll To Top